Judi Togel dan Masa Kejayaanya di Era Orde Baru

judi togel
sumber: refugee4refugees.org

Judi togel sangat familiar di Indonesia. Bahkan bisa dibilang judi yang satu ini adalah satu-satunya judi yang merakyat. Mengapa disebut judi yang merakyat. Karena judi togel ini sering dimainkan oleh semua kalangan masyarakat kita, termasuk kalangan masyarakat kelas bawah yang identik dengan mereka yang penghasilannya tak seberapa. Bahkan, judi yang satu ini menjadi satu-satunya judi terfavorit bagi mereka karena harganya yang murah namun berpotensi menghasilkan uang lebih bagi pemainnya. 

Togel sendiri sebenarnya bukan nama yang sebenarnya. Togel hanyalah sebuah singkatan dari ‘toto gelap’. Istilah atau nama ini hanya populer di Indonesia saja. Disebut togel karena togel mudah diucapkan. 

Di negara lain, togel disebut lotere atau toto angka. Eksistensinya sebenarnya sangat populer, terutama di negara-negara Asia Tenggara dan Cina. Aturan main togel di berbagai negara kurang lebih sama, hanya saja tampilannya saja yang berbeda karena menyesuaikan bahasa dan tulisan di negara togel itu berada. Lantas, bagaimana bisa judi togel muncul di Indonesia dan mengapa judi tebak angka ini dilarang di Indonesia? Yuk simak informasinya berikut ini.

Sejarah Judi Togel di Indonesia

Berbicara soal sejarah munculnya judi togel di Indonesia, ceritanya akan panjang karena kami akan memulainya dari masa penjajahan VOC hingga jaman sekarang. Namun mengingat informasi cukup penting dan dapat menambah wawasan para pembaca situs kami, dengan senang hati kami akan mengulasnya. 

Judi Togel pada Masa Kolonial Belanda

Judi togel rupanya sudah ada sejak zaman penjajahan VOC. Sayangnya tidak diketahui secara pasti siapa dan kapan lotere toto ini dibawa ke Indonesia. Namun sebagian besar sejarawan kita berpendapat bahwa togel atau toto gelap dibawa oleh sekelompok pedagang dari Eropa yang singgah di tanah air kita. 

Ada juga yang berpendapat bahwa judi togel merupakan ‘warisan’ dari Kolonial Belanda yang mana sebagian besar masyarakat Eropa sangat dekat dengan dunia hiburan. Jika dihubungkan dengan adat ketimuran kita, tentu situasi ini sangat berbeda. Inilah yang kemudian menjadi dasar asumsi sebagian besar sejarawan yang mengatakan bahwa judi togel dan judi-judi lainnya yang ada di Indonesia merupakan bagian dari gaya hidup masyarakat Eropa yang dibawa ketika mereka berada di Indonesia. 

Sejak munculnya model taruhan tebak angka ini, perlahan masyarakat kita tertarik untuk mencobanya hingga saat ini. Masyarakat yang berkembang dibarengi dengan perkembangan teknologi serta adanya perubahan gaya hidup menjadikan judi togel ini semakin ‘diterima’ oleh kalangan tertentu, khususnya penyuka taruhan berhadiah instan dan besar. 

Ada masa di mana saat Kolonial Belanda ingin membentuk perserikatan di Indonesia, seorang gubernur Belanda yang sedang bertugas di Indonesia pernah membuat suatu kebijakan soal permainan judi togel. Ia menetapkan togel sebagai hiburan yang sah dan boleh dimainkan baik oleh orang asing maupun orang pribumi. Bahkan sang gubernur jenderal tersebut membuka perizinan pembangunan rumah-rumah judi togel untuk mendapatkan pemasukan tambahan berupa pajak dari rumah-rumah judi tersebut.

Nah, berawal dari sini, permainan judi togel mulai dikenal secara massive di berbagai kalangan, bahkan hingga masyarakat kecil. Mereka yang berasal dari kalangan masyarakat kelas bawah sedikit melakukan modifikasi pada permainan judi. Misal, dengan menentukan besaran taruhan yang lebih kecil dibandingkan dengan togel-togel yang berlaku pada saat itu. 

Judi Togel Pasca Kemerdekaan RI & Orde Lama

soekarno larang togel
sumber: soekarnonkri.blogspot.com

Kebiasaan masyarakat ini terus berlangsung hingga pasca kemerdekaan RI. Masa-masa itu adalah masa di mana perjudian masih dilegalkan oleh pemerintah RI. Tak lama setelah itu, dalam rangka membentuk mental pemuda-pemudi Indonesia yang lebih baik, Presiden RI pertama, Soekarno, lalu mengeluarkan sebuah keputusan presiden alias Kepres No.114 Th 1965 soal perjudian togel yang dinyatakan ilegal. 

Dengan rilisnya peraturan baru ini, secara resmi Togel dilarang karena dianggap dapat merusak moral generasi Bangsa Indonesia. Keputusan tersebut dibuat bersamaan dengan diciptakannya Manipol (Manifesto Politik) yang tak lain adalah sebuah bentuk kesepakatan kerjasama politik dengan D.N Aidit. 

Tujuan utama Manipol ini sendiri adalah untuk menciptakan sebuah revolusi baru, khususnya revolusi kebudayaan yang terinspirasi dari gerakan Great Leap Forward yang ada di Negara Cina. Gerakan ini dianggap oleh kedua tokoh ini sebagai gerakan yang efektif untuk mengembalikan kebudayaan dan karakter asli suatu bangsa. 

Padahal, pada kenyataannya, gerakan Great Leap Forward di Negara Cina ini gagal dalam implementasinya. Tidak ada publik yang mengetahui akan fakta besar ini hingga Presiden Cina pada masa itu, Mao Zhedong, meninggal dunia. 

Sekedar informasi tambahan, gerakan Great Leap Forward yang diberlakukan di Negara Cina dinilai terlalu kaku karena turut mengatur hal-hal yang bersifat privat seperti soal aturan gaya rambut, pelarangan menonton film-film barat, dan bahkan pelarangan untuk mendengarkan lagu-lagu band rock and roll legendaris asal Inggris, The Beatless. 

Togel pada Masa Orde Baru

Implementasi Manipol yang digagas Soekarno rupanya gagal karena perekonomian Indonesia pada saat itu sedang terpuruk. Imbasnya adalah memicu gerakan yang sangat bersejarah, yaitu G30SPKI yang dipimpin oleh D.N Aidit. Sejarah kelam yang menewaskan para jenderal ini memang masih menjadi teka-teki hingga sekarang, namun insiden inilah yang menjadi awal mulanya tumbangnya masa Orde Lama dan lahirnya masa Orde Baru.

Setelah masa kepemimpinan Soekarno berakhir, Soeharto kemudian mengambil alih pemerintahan dan menyebutnya dengan masa Orde Baru. Pria yang dijuluki sebagai The Smiling General ini langsung menghapus Manipol dan melahirkan Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret). 

Berakhirnya Manipol turut berimbas pada eksistensi judi togel di Indonesia. Pada masa Orde Baru, togel dan judi-judi lainnya berkembang dengan pesat. Pasalnya, semua praktik perjudian berstatus legal dan bahkan pemerintah ikut serta dalam mengatur bisnis perjudian. Baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah secara bersama-sama mengatur kebijakan yang menguntungkan dunia perjudian.

Hanya saja, pada praktiknya, judi togel pada masa Orde Baru ini sedikit berbeda, mulai dari aturan mainnya hingga tampilan fisiknya. Togel versi lawas dibuat dalam bentuk lotere, sedang togel pada masa Orde Baru ini dibuat dalam bentuk kupon berhadiah. 

Awal Kejayaan Togel Era OrBa

Dukungan untuk bisnis perjudian di era Orde Baru terlihat nyata dengan adanya lembaga-lembaga pengumpul dana yang ada di setiap daerah. Di Surabaya, misalnya, Pemda Surabaya secara resmi menerbitkan Lotto alias Lottere Totalisator yang berfungsi untuk menadah dana togel yang masuk. 

Tak hanya Lotto, rupanya ada pengumpul dana lainnya yang dapat dijumpai secara bebas di Indonesia. Misalnya saja NALO, singkatan dari National Lottere yang dibuat oleh Pemda DKI Jakarta pada saat Ali Sadikin memimpin ibu kota. NALO ini semacam kuis tebak-tebakan yang dibuat dengan sangat sederhana dan sebisa mungkin tidak memperlihatkan unsur judi sama sekali. Hadiah yang akan diberikan kepada pemenang kuis berasal dari penyelenggara dan pemda DKI.

Dan yang lebih menarik adalah judi togel pernah berkontribusi dalam pembiayaan pengembangan dan pembinaan para atlet berbagai cabang olahraga di Indonesia. Contohnya saja KBPSB (Kupon Berhadiah Porkas Sepak Bola) yang dijual secara bebas di tahun 1985. Hasil penjualan kupon ini nantinya digunakan untuk menyokong pembiayaan pengembangan dan pembinaan para atlet Indonesia. Pemerintah pusat juga menunjukan dukungannya dengan menetapkan peraturan yaitu UU No 22 Th 1945 tentang undian berhadiah. 

Ketika itu, baik pemerintah maupun masyarakat menganggap bahwa segala bentuk undian berhadiah tidak akan berdampak buruk terhadap kehidupan sosial secara umum. Oleh karenanya, di tahun 1987, Kupon Porkas ini berkembang begitu pesat dan bahkan sempat berganti nama menjadi KSOB (Kupon Sumbangan Olahraga Berhadiah). 

Togel Berkedok SDSB

judi togel Porkas
sumber: sejarahdunia.com

Presiden Soeharto pada masa itu memang terkenal sebagai pengagum dunia Barat; berbeda dengan Soekarno yang memang terlihat cukup dekat dengan tokoh-tokoh berhaluan komunis seperti Mao Zhedong dan presiden Rusia. Dalam pengelolaan togel yang ‘dibungkus’ dengan tampilan ala kupon berhadiah, Soeharto terinspirasi dari Singapura dan Inggris yang pada saat itu memang terkenal baik soal pengelolaan keuangan. 

Dari sini, Indonesia lalu membentuk sokongan dana SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah) yang pada intinya aturan main dari bentukan Soeharto ini tak jauh berbeda dengan sistem lotere. Bahkan dalam implementasinya, permainan Toto (togel), lotere, kupon dan porkas dibuat, dioperasikan, dan diawasi oleh pemerintah. Dengan kata lain, segala jenis permainan tebak angka seperti yang disebutkan di atas berstatus legal. 

Pada mulanya, SDSB ini terbilang sukses. Hal ini terlihat dari jumlah dana yang terkumpul dari masyarakat. Hanya dalam waktu satu tahun saja (Januari-Desember 1987), SDSB berhasil menghimpun dana gotong royong sebesar 221,2 miliar rupiah. Jumlah uang ratusan miliar untuk tahun 1980-an adalah jumlah yang sangat besar. 

Mungkin jika kita bandingkan dengan kurs dollar dan inflasi yang berlaku saat ini, ratusan miliar ini setara dengan triliunan atau bahkan puluhan triliun rupiah. Nominal yang sangat luar biasa. Namun, dana gotong royong dari masyarakat ini perlahan ‘digerogoti’ oleh oknum-oknum pejabat yang menduduki jabatan penting dalam pemerintahan. Dana yang jumlahnya massive tersebut perlahan berkurang dan berakhir masuk ke dalam kantong pribadi para koruptor. 

Runtuhnya SDSB, Meredupnya Togel

Operasional SDSB rupanya tak berjalan mulus di Indonesia karena banyaknya praktik korupsi yang juga mengambil ‘jatah’ dalam porsi yang besar dari dana ini. Tidak seperti di Singapura dan di Inggris yang sangat sukses, SDSB di Indonesia hanya beroperasi selama satu tahun saja dan dampak positifnya nol. Dana yang seharusnya dimanfaatkan untuk rakyat sudah hilang dan tidak ada manfaatnya lagi.

Akibatnya, sektor perekonomian mikro terpuruk. Hal ini kemudian berimbas pada kesejahteraan rakyat di mana kondisi rakyat pada masa itu jauh dari kata sejahtera. Akibat tindakan korupsi massive dari pemerintah, dana yang seharusnya bisa dimanfaatkan oleh rakyat justru membuat perekonomian terjun bebas. 

Perlu kalian ketahui bahwa SDSB ini adalah fondasi utama dari adanya praktik judi togel modern seperti yang kita kenal sekarang ini. Dari masa ke masa, ide judi berkedok dana gotong royong ini terus ada hingga sekarang. Sebut saja salah satu contoh yang nyata adalah asuransi. 

MUI Larang Togel 

Dari peristiwa ini, MUI alias Majelis Ulama Indonesia, kemudian membuat keputusan yang menyatakan bahwa segala jenis praktik perjudian, termasuk judi togel, dilarang dan masuk dalam perbuatan ilegal. Masyarakat yang sudah tergila-gila dengan judi togel dan judi-judi lainnya memang sulit untuk meninggalkan kebiasaan mereka. Meski telah dilarang secara resmi, masih banyak praktik perjudian di tengah kehidupan masyarakat. 

Sayangnya, MUI dinilai kurang tegas karena pihak MUI tidak juga mengeluarkan fatwa khusus tentang porkas, SDSB, dan sejenisnya. Hal ini membuat sebagian besar masyarakat khawatir. Sebagai bentuk respon atas sikap MUI ini, sekitar pertengahan tahun 1986, diselenggarakan sebuah acara yang merupakan inisiatif dari para ulama dan cendikiawan muslim se-Jawa Barat. Agenda utama acara ini adalah untuk membahas porkas dan SDSB. 

Tak hanya para ulama dan cendekiawan muslim saja yang hadir dalam acara ini, melainkan juga ahl hukum yang turut serta menyampaikan opini mereka terkait dengan porkas dan SDSB. Semua sepakat untuk melarang dan mengharamkan SDSB dan Porkas. Kedua praktik ini telah dikategorikan sebagai judi. 

Tak lama setelah penyelenggaraan acara ini, MUI kemudian mengeluarkan fatwa terkait dengan GIM, termasuk judi togel, dan jenis judi lainnya. Togel dan judi lainnya dianggap merusak kehidupan masyarakat dan agama, terutama bagi remaja dan anak-anak. Praktik judi ini tentunya tidak sesuai dengan nilai moral yang telah mereka pelajari di rumah dan di sekolah. 

Togel Era SBY

Kemudian, pasca Indonesia memiliki presiden baru, yaitu SBY, praktik perjudian benar-benar dilarang keras. SBY secara khusus membuat aturan berkekuatan hukum untuk melarang keras adanya praktik perjudian dalam bentuk apapun. 

Hingga saat ini, aturan tersebut masih berlaku dan terus diperbaharui sesuai dengan kebutuhan. Sebut saja aturan hukum pasal 303 dan Pasal 303 bis KUHP yang mengatur soal sanksi hukum dan denda bagi mereka yang terbukti bermain, menyebarkan, dan menyediakan fasilitas judi. 

Sanksi hukum yang diberikan tidak main-main. Pelaku perjudian akan dikenai sanksi hukum berupa kurungan penjara maksimal 10 tahun dan denda uang 50 juta rupiah. Meski aturan hukum ini sudah jelas dan mengikat, tetap saja banyak masyarakat kita yang hingga saat ini masih gemar bermain judi, termasuk judi togel, secara diam-diam. 

Togel Online

Terlebih sekarang ini telah tersedia situs-situs judi togel online yang pastinya ilegal di negara kita. Situs-situs ini menjadi lapak baru bagi para bandar untuk menyediakan ‘tempat’ bagi para pecinta judi togel. Kedua belah pihak pastinya diuntungkan dengan adanya situs-situs judi togel online ini.

Ratusan atau bahkan ribuan situs beroperasi setiap harinya, mulai dari situs gratis hingga situs berdeposito. Semuanya laris manis karena situs-situs ini dianggap aman dari endusan pihak aparat penegak hukum. 

Sangat memprihatinkan karena situs-situs judi togel ini dapat diakses oleh siapa saja, termasuk anak-anak yang pastinya nanti dapat berdampak buruk bagi masa depan mereka nantinya. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk memberantas praktik judi online, termasuk judi togel online. 

Wah, cukup panjang juga ya bicara soal sejarah judi togel di negara kita. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa meski sempat legal dan mendapat dukungan dari pemerintah, pada akhirnya dalam praktiknya, judi togel yang digadang-gadang oleh pemerintah Orde Baru tidak memberikan manfaat sama sekali untuk rakyat. Bahkan, MUI sendiri mengeluarkan fatwa bahwa judi dan segala jenis praktik yang menyerupai judi diharamkan dan termasuk perbuatan ilegal.